cerpen warisan ayah

Oleh: Zikrillah

Bayangan emak masih remang dan rebah antara kerikil yang basah oleh embun pagi tadi.Rautnya sudah banyak garisan umur. Rambut beruban jatuh diantara sela-sela penutup kepala. Tangannya tegas menggenggam gagang sapu lidi yang tak rata lagi ujungnya, lalu menyapu dedaunan durian kering yang tumbuh tak jauh dari halaman rumah. Sesekali ia mengusir anak-anak ayam yang riuh kesana kemari.

Asap mengepul diantara ventilasi kayu yang telah menghitam. Kicauan burung tak henti sembari menari dari dahan ke dahan. Tak jauh dari situ, aku duduk termenung kaku didepan carak, dekat dengan aliran air dari alur lembah yang kemudian disalurkan melalui bambu. Aku menunggu dingin mereda untuk membasuh muka. Sesekali menarik nafas panjang untuk bersiap menyambut air yang sejuk.

Aku harus kekota hari ini. Semalam aku berjingkrak ria setelah mendengar haba kawan bahwa aku lulus di perguruan tinggi negeri terkemuka di Aceh. Butuh tiga jam mengepul debu dijalan penuh batu hanya untuk dapat mengakses internet. Aku harus melakukan registrasi ulang secepatnya. Hampir segala hal sekarang harus dilakukan melalui internet. Namun dikampungku, jangankan internet, selembaran surat kabar saja hanya ada sehari dua. Itupun hanya ada di beberapa warung kopi saja.Berita-berita basi.
***

“Ketika kau sudah kuliah nanti, kau carilah perkerjaan disana. Emak mungkin tak sanggup mencukupi kebutuhanmu di banda. Barang-barang disana kan mahal. Kalau untuk makan, nanti emak kirimi beras dan sayur paku sebulan sekali. Hemat-hemat lah kau disana nanti. Emak sudah menjual sawah untuk kamu menuntut ilmu” nasehat emak kepadaku.

Aku menjadi pedengar yang budiman saja sambil melahap nasi dan lauk keumamah hidangan malam ini. Tanpa aku menyela sedikitpun, emak terus saja berbicara tentang masadepanku kelak. Lagipula nabi melarang kita bicara saat sedang makan, agar tidak masuk jin kemulut kata emak suatu ketika.

“Bruk! Mak…maak” adikku mendobrak pintu rumah dan mengambur kedapur, memotong ceramah emak kepadaku. Seusai isya adik pulang dari pengajian di bale desa. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumah. Jalannya masih saja belum diaspal dan tidak punya penerangan. Sama sekali tidak seperti yang dijanjikan wakil rakyat saat beberapa tahun silam ketika kampanya di gampongku.

“Seperti anak tak beradab saja kamu!” emak setengah murka memandangi adik. Dia hanya diam saja sambil menjaga pandangannya.

“Ada babi tadi mak di simpang lorong kita” katanya lemah. Emak kembali berpaling kepadaku melanjutkan nasihatnya.

Aku hanya bisa mendengar nasehat emak saja. Hanya itu yang kami punya. Wanita anggun dan tegas sekaligus mengalir dalam kesehariannya. Emakku gigih dalam bekerja dan juga multitalenta. Aku seperti mendapat gambarang Cut Nyak Dhien di kehidupan nyata. Seperti yang tertera di buku sejarah Aceh yag sering aku baca di pustaka sekolah dulu.

Ayah juga tak kalah beraninya. Jika emak Cut Nyak Dien ku, sudah pasti ayah adalah Teuku Umarnya. Ayahku adalah seorang pejuang yang tangguh dengan caranya sendiri. Kata kakek, ayah adalah orang yang cerdas dan memiliki prinsip yang kuat dalam hidupnya. Banyak yang datang kerumah untuk mengajaknya ikut perang di medan gerilya melawan si pa’i yang menjajah Aceh.

Namun ayah tetap enggan bergabung dan menjalani hidupnya bertani sambil mengajar mengaji anak-anak dan remaja di gampong.

Tak jarang juga ayah membawa berkarung-karung beras ke persembunyian pejuang. Kadang-kadang ayah membawa serta dan membanggakanku di hadapan mereka.
“Aneuk lon ini nanti akan menjadi pejuang yang hebat” katanya sambil menyungging senyum lebar memamerkan giginya.

Bukan karena takut peluru ayah tidak bergabung dengan pejuang gerilya. Jika ayah pergi, siapa yang akan mengisi tempurung kepala anak-anak disini dengan ilmunya. Sedangkan teungku-teungku yang lain lebih memilih bersembunyi diantara bilik dayah jauh disana. Apalagi para guru sekolahan yang didatangkan dari kota, sering kali mereka tak betah berada digampongku disini.

Suatu pagi hari sabtu itu, puluhan pasukan berbaju hijau dengan senjata laras panjang datang menjemput paksa ayahku. Aku masih termenung menatap cucuran air carak untuk membasuh diri lekas pergi ke sekolah. Saat itu aku masih sekolah menengah pertama kelas dua.

Aku ingat betul kejadian itu. Hanya saja aku seperti terpaku ditempat aku duduk itu setelah terkena tamparan dari tangan kasar si pa’i. Mereka melepaskan beringasnya saat ayah meluncur untuk menolongku. Darah mengalir di kening dan bibirnya robek terkena hantaman kopor senapan.

Empat orang pa’i mencengkram ayah hingga lemas dalam perlawanannya. Disatu sudut rumah, emak pingsan dengan kandungannya yang sudah berumur. Aku sesegukan sambil berusaha menarik kaki ayah dari si pa’i. Ayahku dibawa ke pos tentara dengan diseret layaknya kambing. Bale pengajian ayah dibakar dengan alasan ayah mengajar pemberontak disini.

Ayah pulang dengan tempurung kepala yang rusak. Keningnya hanya tinggal sebelah. Darah tak henti mengucur saat aku memandikannya. Kain kafanpun memerah dengan darah yang keluar dari lubang kepala. Saat ditandu ke pemakaman, emak merintih hingga pingsan karena berat hatinya melepas ayah pergi. Aku berjalan dibelakang keranda bersama anak didik ayah.

Dalam hati, aku akan melanjutkan perjuangannya. Wajah-wajah pa’i itu tak pernah bisa aku lupa.Ingin sekali aku menginjakkan tapak kakiku diatas kepala mereka.

Realita sekarang berbanding terbalik. Tak sedikit pejuang-pejuang itu sekarang membuncitkan perutnya sendiri setelah perdamaian. Pemerintah pusat meminta dimaafkan atas matinya ayahku dan ayah-ayah lainnya tanpa pertanggung jawaban. Dan kami, mewariskan dendam hingga cucu kami besar nanti.

Zikrillah adalah mahasiswa tahun akhir Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: redaksi@acehtrend.co